Banyuasin, 16 Desember 2025 – Akses terhadap air bersih yang aman dan layak kini mulai menjadi kenyataan bagi warga Desa Sungai Batang, Pulau Borang, Kecamatan Banyuasian I, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, air Sungai Musi yang sebelumnya keruh dan berbau kini dapat diolah mennjadi air layak pakai melalui penerapan teknologi filtrasi sederhana namun efektif.
Program ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM), dan dilaksanakan dengan melibatkan Tim Pengabdian Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Sriwijaya bekerja sama dengan mitra lokal Relawan Gesit Palembang. Keterlibatan Jurusan Teknik Sipil Polsri menegaskan peran disiplin ilmu teknik sipil dalam menyediakan solusi teknis yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, khususnya terkait infrastruktur air bersih.
Desa Sungai Batang memiliki kondisi geografis yang unik karena dikelilingi oleh Sungai Musi yang menjadi sumber utama air bagi warga. Namun, kualitas air yang digunakan sebelumnya sangat buruk: keruh akibat sedimentasi, terpapar limbah domestik dan aktivitas manusia, tampak berwarna dan berbau, sehingga tidak memenuhi kriteria air bersih yang aman dan layak untuk penggunaan sehari-hari. Tantangan tersebut diperberat oleh akses menuju desa yang cukup sulit, karena hanya dapat dicapai menggunakan perahu kecil yang menyeberangi Sungai Musi, sehingga upaya distribusi air bersih konvesional menjadi tidak efisien.
Menjawab tantang tersebut, tim dari Teknik Sipil Polsri menawarkan solusi berupa implementasi sistem filtrasi air sungai yang sederhana, efektif, dan berkelanjutan. Rancangan filtrasi ini tetap berpegangan pada prinsip-prinsip teknik sipil lingkungan, dengan memanfaatkan material lokal seperti karbon aktif, zeolit, pasir silika, dan kerikil sebagai media penyaring. Pendekatan ini tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis penghilangan kekeruhan dan kontaminasi, tetapi juga mempertimbangkan kemudahan perawatan serta ketersediaan material di lapangan.
Tim pelaksana memutuskan untuk memasang dua unit instalasi penyaringan di titik-titik dengan kebutuhan air bersih yang tinggi, yaitu di sekolah dan masjid/musala. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada intensitas penggunaan air, baik untuk kegiatan pendidikan, ibadah, maupun aktivitas komunal lainnya. Dengan penempatan di dua titik utama ini, teknologi filtrasi diharapkan dapat memberikan dampak yang luas dan dirasakan langsung oleh berbagai lapisan masyarakat.
Selain aspek teknis pemasangan alat, program ini juga menekankan pentingnya edukasi dan pemberdayaan. Sebanyak 20 warga desa telah dilatih secara langsung sehingga mampu merakit, mengoperasikan, dan memelihara sistem filtrasi secara mandiri. Materi pelatihan meliputi tata cara pengoperasian harian, pengenalan fungsi setiap lapisan media filter, hingga prosedur pemeliharaan seperti backwash (pembersihan media filter dengan membalikkan aliran air) dan drain (pembuangan sisa kontaminan dari filter) yang perlu dilakukan secara berkala. Pendekatan ini menjadikan peran teknik sipil tidak hanya berhenti pada desain dan konstruksi, tetapi juga pada pembentukan kapasitas masyarakat.
Hasil implementasi teknologi filtrasi menunjukan peningkatan kualitas air yang signifikan. Secara fisik, air yang semula keruh dan berwarna kini menjadi jernih dan tidak lagi menimbulkan bau menyengat, sehingga lebih layak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan menjadi sumber air baku. Namun demikian, tim dari Teknik Sipil Polsri tetap menegaskan pentingnya prosedur pengolahan lanjutan: air hasil filtrasi tetap harus direbus hingga mencapai suhu 100 °C sebelum dikonsumsi, untuk memastikan keamanan mikrobiologis dan meminimalkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air.
Dari perspektif teknik sipil, keberhasilan program ini menunjukan bahwa prinsip-prinsip perencanaan dan rekayasa sistem penyediaan air bersih dapat diterapkan secara adaptif di wilayah dengan akses terbatas dan kondisi lingkungan yang menantang. Sistem filtrasi yang dirancang tidak hanya memperhatikan kinerja hidraulik dan kualitas air, tetapi juga aspek keandalan, kemudahan operasi, dan keberlanjutan jangka panjang melalui perlibatan aktif masyrakat sebagai pengelola.
Program ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 6 tentang akses air bersih dan sanitasi, serta Tujuan 13 terkait aksi iklim melalui penerapan teknologi yang berkelanjutan dan adaptif terhadap kondisi lokal. Keterlibatan Jurusan Teknik Sipil Polsri dalam program ini memperkuat infrastruktur dasar di tingkat akar rumput.
Ke depan, diharapkan kemandirian masyarakat Desa Sungai Batang dalam mengelola dan memelihara sistem filtrasi ini akan terus meningkat, sehingga berdampak langsung pada kesehatan, produktivitas, dan kesejahteraan warga. Bagi Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Sriwijaya, kegiatan ini menjadi contoh konkret bagaimana ilmu teknik sipil dapat diimplementasikan secara langsung untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mendukung pembangunan daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.